Energi dan Laju Reaksi Kimia, IPA Kelas 9
Energi dan Laju
Reaksi Kimia
Pada reaksi pembakaran pita magnesium yang
telah kalian lakukan pada sub bab sebelumnya, apakah menurutmu ada energi yang
dilepaskan atau dibutuhkan? Bagaimana kalian mengetahuinya?
1. Reaksi Eksotermik dan Endotermik
Banyak reaksi kimia yang menimbulkan perubahan
energi. Perubahan energi dapat terjadi dalam bentuk panas, cahaya, maupun
bunyi. Untuk mengetahui apakah suatu reaksi melepaskan atau membutuhkan panas,
dapat diamati dari kenaikan atau penurunan suhu di sekitar reaksi.
Reaksi yang menghasilkan
energi panas atau disebut sebagai reaksi eksotermik.
Reaksi eksotermik ditandai dengan adanya kenaikan suhu di sekitar tempat
terjadinya reaksi karena energi dikeluarkan.
Salah satu contoh
reaksi eksotermik terjadi pada reaksi netralisasi, demikian pula saat kalian
menyalakan korek api, pasti kalian dapat merasakan panas, bukan? Proses pembakaran ketika kalian menggunakan bahan bakar,
minyak maupun gas, juga menghasilkan energi panas sehingga reaksi pembakaran
juga merupakan reaksi eksotermik. Termasuk juga pembakaran magnesium yang
terjadi sesuai persamaan reaksi berikut:
magnesium + oksigen →
magnesium oksida + energi
Walaupun membutuhkan energi panas di awal agar
reaksi mulai terjadi, namun energi yang dihasilkan dalam bentuk cahaya dan
panas lebih besar, sehingga secara keseluruhan reaksi ini adalah reaksi
eksotermik.
Dalam tubuh makhluk hidup selalu terjadi
proses respirasi yang telah kalian pelajari pada
saat kelas 8. Proses ini juga menghasilkan energi panas untuk menjaga tubuh
kita tetap hangat. Dalam proses respirasi sel, terjadi reaksi kimia sebagai
berikut:
Glukosa + oksigen → karbon
dioksida + air + energi
Reaksi kimia yang
membutuhkan energi panas disebut reaksi endotermik.
Apabila reaksi endotermik terjadi saat kalian mereaksikan zat, maka kalian akan
merasakan suhu gelas kimia menjadi lebih dingin karena reaksi kimia yang
terjadi mengambil panas dari sekitarnya sehingga suhu sekitarnya mengalami
penurunan.
Pada suatu kecelakaan di lapangan, para atlet
biasanya diberikan chemical cold pack atau kompres dingin yang berisi ammonium nitrat, NH4NO3.
Senyawa ini bersama terkandung dalam kantong
plastik yang telah dikemas. Namun ammonium nitrat dan air dipisahkan oleh suatu
tabung tipis.
Saat kamu meremas kantong ini tabung itu patah
sehingga terjadi reaksi antara ammonium nitrat dengan air, yang membutuhkan
panas sehingga membuat kantong menjadi dingin lalu digunakan untuk mengompres.
Reaksi endotermik yang sangat penting bagi kehidupan adalah fotosintesis.
Seperti telah kalian ketahui, tumbuhan adalah makhluk hidup yang bersifat
autotrof yang memproduksi sendiri makanannya dalam bentuk glukosa. Sebagai
makhluk heterotrof, hewan dan manusia memperoleh makanan dari tumbuhan.
Keistimewaan tumbuhan adalah memiliki zat hijau daun atau klorofil yang dapat
menyerap energi dari matahari. Tanpa klorofil, reaksi fotosintesis tidak dapat
terjadi. Apabila tidak ada reaksi fotosintesis maka hewan dan manusia tidak
dapat memperoleh glukosa. Tidak hanya menghasilkan makanan, dalam proses
fotosintesis tumbuhan bahkan memanfaatkan karbon dioksida yang merupakan zat
buangan dalam proses respirasi.
Dari proses fotosintesis dihasilkan oksigen
yang dapat kita hirup saat pernapasan. Jadi manfaat adanya tumbuhan sangat
besar bagi kelangsungan kehidupan. Karena itulah kita perlu menjaga tumbuhan di
sekitar kita dengan tidak menebang pohon sembarangan, merawat, dan ikut menanam
berbagai tumbuhan hijau. Reaksi fotosintesis adalah sebagai berikut:
Karbon dioksida + air +
energi → glukosa dan oksigen atau:
6CO2 + 6H2O
+ energi → C6H12O6+ 6O2
2. Laju
Reaksi Kimia
Suatu reaksi kimia dapat berjalan apabila ada
tumbukan antara atom-atom pereaksi dan energi yang cukup untuk memulai reaksi
tersebut. Energi dapat diperoleh dari tumbukan antara partikel.
Energi ini disebut sebagai energi aktivasi,
yaitu energi minimum yang diperlukan untuk memulai suatu reaksi kimia. Simbol
untuk energi aktivasi adalah Ea. Reaksi dapat mulai berjalan hanya jika energi
aktivasi telah dicapai. Seperti telah kalian ketahui dalam suatu reaksi kimia,
ketika pereaksi bertumbukan maka akan terbentuk produk. Jadi semakin lama suatu
reaksi berjalan, makin sedikit zat pereaksinya (karena sudah berubah menjadi
produk) dan karena itu makin lama reaksi, makin banyak produknya.
Laju reaksi didefinisikan sebagai perubahan
banyaknya pereaksi yang berkurang dalam rentang waktu tertentu atau bisa juga
berarti: perubahan pada banyaknya produk yang bertambah dalam selang waktu
tertentu. Dengan kata lain, laju reaksi adalah perubahan jumlah pereaksi atau
produk dalam selang waktu tertentu. Reaksi kimia antara magnesium dan asam
nitrat yang telah kalian lakukan pada subbab 5.2 berjalan lebih lambat
dibandingkan dengan reaksi pada kembang api yang sangat cepat. Reaksi kimia ada
yang berjalan cepat dan juga ada yang lebih lambat. Perkaratan pada besi juga
terjadi dalam jangka waktu yang panjang, namun membakar kayu dapat berlangsung
sangat cepat.
Mengapa penting untuk belajar laju reaksi?
Dalam skala industri, pasti kita ingin reaksi
berjalan cepat supaya tidak buang-buang energi. Kalau reaksinya lama maka akan
membutuh energi yang lebih banyak, artinya biaya produksi tinggi, yang berakhir
pada meningkatnya harga produk yang dijual pada konsumen. Padahal kalau produk
mahal, susah bersaing di pasaran. Jadi dengan mempelajari faktor-faktor yang
mempengaruhi laju reaksi, kita bisa mempercepat reaksi yang berjalan lambat dan
memperlambat reaksi-reaksi berbahaya, contohnya: pada mobil yang sedang
berjalan, sebenarnya ada gas beracun yang dihasilkan, para ahli menambahkan
katalis yang mempercepat reaksi yang mengubah gas-gas beracun menjadi gas tidak
beracun. Kalau reaksinya tidak dibuat cepat, kita bisa menghasilkan terlalu
banyak gas beracun di udara.
Efek rumah kaca akan makin buruk. Ini contoh
reaksi yang dipercepat. Namun ada juga reaksi yang diperlambat, misalnya agar
makanan tidak cepat basi kita letakkan di kulkas agar pembusukan oleh bakteri
diperlambat. Lakukanlah aktivitas berikut ini untuk menyelidiki waktu reaksi
antara kapur dengan asam asetat.
3.
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Laju Reaksi Kimia
Ada empat faktor yang mempengaruhi laju rekasi
kimia, yaitu:
a. Suhu
Coba bayangkan kalian berada di tempat yang
dingin. Pasti kita ingin selalu dalam kamar yang hangat, kalau bisa di bawah
selimut supaya tetap hangat. Gerakan kalian menjadi terbatas karena kedinginan.
Sebaliknya, jika ada di tempat yang panas, kita jadi lebih semangat
beraktivitas. Atau kalau kita dalam keadaan lapar, pasti kita kurang semangat
olahraga.
Tapi setelah ada asupan makanan, kita jadi
semangat.
Nah, begitu juga dengan partikel-partikel
pereaksi, jika diberi suhu yang panas, sebagai salah satu bentuk energi, maka
partikelnya punya energi yang lebih tinggi untuk bergerak. Apabila partikel
lebih sering dan cepat bergerak, maka tumbukan antar partikel makin sering
terjadi. Ini berarti frekuensi tumbukan antar partikel lebih tinggi. Bukan itu
saja, coba bayangkan dua mobil yang bergerak dengan kecepatan pelan, sekitar 20
km/jam saling tabrakan, apa yang akan terjadi? Bayangkan pula apa yang akan terjadi
jika mobil-mobil yang bertabrakan itu keduanya sedang dalam kecepatan tinggi.
Pasti bunyi dan kerusakan yang dihasilkan lebih dahsyat.
Artinya jika partikel-partikel bergerak cepat
karena suhu tinggi lalu bertumbukan, maka energi yang dihasilkan akan jauh lebih besar dibandingkan pada suhu rendah. Sebagai
contoh, suatu reaksi memiliki Ea 700 J, partikel-partikel pereaksi yang
bertumbukan masing-masing memiliki energi 400 J dan 500 J. Dengan kuantitas
energi seperti itu, pastilah energi hasil tumbukan akan lebih besar daripada Ea
700 J dan produk reaksi pun akan lebih cepat dihasilkan. Berbeda halnya jika
energi pereaksi rendah, misal 100 J dan 200 J, tentu akan lebih sulit mencapai
Ea 700 J seperti contoh reaksi sebelumnya. Produk reaksi pun akan lebih lama
dihasilkan.
b. Banyaknya Zat Pereaksi
Pada suatu ruangan kelas ukuran normal ada 50
orang siswa, di kelas lain yang berukuran sama hanya berisi 10 orang. Apabila
di kedua kelas itu semua siswa bergerak, di kelas mana lebih memungkinkan
terjadinya tabrakan? Dalam suatu larutan yang memiliki lebih banyak partikel (larutan berkonsentrasi tinggi), tumbukan akan lebih banyak terjadi
sehingga reaksi akan berjalan lebih cepat.
Kebalikannya pada larutan dengan konsentrasi
rendah terdapat lebih sedikit partikel, kemungkinan terjadinya tumbukan lebih
rendah sehingga reaksi berjalan lambat.
c. Luas Permukaan
Suatu sore kita akan membuat kolak manis
memakai gula aren atau gula merah atau gula lempeng.
Jika kita masukkan langsung satu bongkah gula
berbentuk bulat itu ke dalam air, pasti lebih susah larut dibandingkan kalau
gula itu sudah kita potong kecil-kecil dulu. Dengan ukuran gula yang besar
berarti luas permukaan gula untuk kontak dengan air sebagai pelarut lebih
sedikit. Sedangkan gula yang sudah terpotong-potong, meski ukurannya lebih
kecil tapi luas permukaannya lebih besar.
Perlu kalian ingat bahwa luas permukaan tidak
sama dengan ukuran partikel. Untuk membantu kita, coba bayangkan kamu melihat
suatu rumah yang besar dari luarnya. Berapa banyak pintu masuk yang bisa kamu
temui untuk masuk ke dalam rumah itu? 1, 2, mungkin paling banyak 3.
Sekarang bayangkan seandainya kita
potong-potong rumahnya sehingga setiap ruangan dalam rumah tersebut
terpisah-pisah, sekarang ada berapa banyak pintu yang bisa kamu temui? Lebih
banyak kan?
Nah anggaplah pintu tersebut adalah area untuk
kontak supaya terjadi tumbukan. Ukuran ruangan memang lebih kecil dari ukuran
rumah tapi area atau tempat untuk kontak akan semakin banyak. Ini yang disebut
sebagai luas permukaan. Lebih banyak sisi yang tersedia untuk kontak atau
bertumbukan antara zat pereaksi bila ukuran partikel lebih kecil.
Jadi makin besar luas
permukaan suatu zat pereaksi, maka makin mudahlah
reaksi itu terjadi, dengan demikian laju reaksi makin tinggi. Karena
itulah, biasanya kamu atau ibumu menambahkan garam pada masakan dalam bentuk
bubuk (luas permukaan atau area kontak) bukan dalam bentuk balok.
d. Penambahan Katalis
Katalis istimewa karena dapat memberikan jalur
reaksi lain yang energi aktivasinya lebih rendah tanpa adanya katalis. Semacam
jalan pintas sehingga energi yang dibutuhkan
untuk bereaksi lebih sedikit, sehingga reaksi akan berjalan lebih cepat.
Katalis biasanya bereaksi
dulu dengan pereaksi lalu dilepaskan kembali ketika produk sudah terbentuk, jadi katalis bisa diperoleh kembali setelah suatureaksi terjadi.
Hemat, bukan? Karena itulah katalis sering sekali dimanfaatkan dalam industri,
misalnya dalam pembuatan pupuk terdapat proses produksi ammonia dari gas
nitrogen dan hidrogen. Proses ini dipercepat dengan menggunakan katalis besi.
Sedangkan dalam produksi asam sulfat sering
digunakan katalis vanadium oksida, V2O5.
Katalis juga berperan penting dalam proses
biologi, khususnya dalam tubuh manusia. Bentuk katalis biologi itu adalah
enzim. Nah kamu pasti ingat berbagai enzim yang membantu pencernaan sesuai yang
telah kamu pelajari pada saat di kelas.
0 Response to "Energi dan Laju Reaksi Kimia, IPA Kelas 9"
Post a Comment